Peranan Indonesia dalam Perdamaian Dunia

Indonesia memiliki peran tersendiri dalam perdamaian dunia. Sikap politik Indonesia adalah bebas dan aktif. Bebas artinya Indonesia tidak memihak ke blok manapun, blok barat atau blok timur.

Walaupun tidak memihak kemanapun Indonesia juga bersikap Aktif artinya Indonesia turut serta berpartisipasi dalam perdamaian dunia.

Indonesia sudah menunjukkan komitmennya sebagai negara yang menjunjung tinggi perdamaian dunia sejak merdeka tahun 1945.

Kemudian pada tahun 1957 Indonesia mulai bergabung dalam misi-misi perdamaian dalam naungan PBB (United Nations).

Secara garis besar berikut ini adalah berbagai kontribusi Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia:

1- Konferensi Asia-Afrika (1955)

Indonesia menjadi salah satu pelopor tercetusnya Konferensi Asia-Afrika yang tujuannya adalah menghimpun persatuan negara-negara Asia-Afrika yang pada saat itu baru memperoleh kemerdekaan, mempromosikan serta meningkatkan kerja sama antar negara serta menentang segala bentuk penjajahan.

Konferensi ini dipelopori oleh menteri luar negeri Indonesia pada saat itu, Ali Sastroamidjojo beserta 4 pemimpin negara lainnya Pakistan, India, Bangladesh dan Myanmar yang kemudian diikuti 24 negara Asia-Afrika lainnya.

2- Kontingen Garuda (1957-sekarang)

Kontingen Garuda disingkat KONGA adalah pasukan penjaga perdamaian yang anggotanya diambil dari militer Indonesia yang bertugas dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sejak misi pertamanya tahun 1957, Kontingen Garuda sampai sekarang masih aktif dalam melakukan berbagai misi perdamaian.

Negara-negara yang pernah menjadi tujuan dalam misi Kontingen Garuda adalah negara-negara di Timur Tengah seperti Mesir, Lebanon, Palestina, Irak. Negara Asean seperti Filipina, Kamboja dan Vietnam. Juga negara-negara di Eropa Timur seperti Georgia dan Bosnia.

3- Gerakan Non-Blok (1961)

Indonesia menjadi salah satu pelopor yang tergabung dalam Gerakan Non-Blok, sebuah perhimpunan dari bangsa-bangsa yang tidak beraliansi dengan negara-negara dengan kekuatan besar manapun.

Pada saat itu Soekarno bersama dengan beberapa pemimpin negara lainnya medeklarasikan keinginan mereka untuk tidak terlibat konfrontasi yang muncul menanggapi terjadinya perang dingin antara blok barat dan blok timur. Saat ini organisasi beranggotakan 120 negara.

4- Membentuk ASEAN (1967)

Indonesia dan Malaysia yang sempat berkonfrontasi akhirnya berdamai. Kedua negara bersama negara Asia Tenggara lainnya, Singapura, Thailand dan Filipina merasa perlu untuk menciptakan perdamaian antar negara di kawasan Asia Tenggara.

Akhirnya pada tahun 1967 terbentuklah ASEAN untuk mempererat hubungan politik, social, ekonomi dan keamanan di Asia Tenggara. Saat ini, negara ASEAN berjumlah 10 negara ditambah 5 negara perluasan.

5- Sengketa Laut Tiongkok (2002-sekarang)

Melalui Declaration of Conduct (DoC) pada 2002, Indonesia sampai sekarang memiliki peran yang besar untuk menciptakan perdamaian di Laut Cina Selatan.

Indonesia pada akhirnya menginginkan negara-negara yang terlibat untuk merumuskan Code of Conduct, yaitu sebuah kesepakatan bersama yang mengatur apa saja dan tidak boleh dilakukan di wilayah sengketa.

6- Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB (2007-2008)

Indonesia menjadi anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB pada tahun 2007-2008, pada masa tersebut Indonesia konsisten menyerukan untuk berdirinya negara Palestina yang merdeka dan diakui dunia.

Menyerukan keterlibatan internasional yang berimbang dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina. Menyerukan agar kedua belah mematuhi parameter perdamaian yang ditetapkan PBB.

Hal-hal diatas adalah wujud nyata dari komitmen bangsa Indonesia untuk menjaga perdamaian dunia.

Tidak hanya berhenti disitu, sampai sekarang Indonesia juga masih selalu aktif dalam mendukung perdamaian dunia seperti penyelesaian konflik di Timur Tengah juga menyerukan penanggulangan terhadap masalah terorisme yang berkembang belakangan di dunia internasional.

Referensi
  1. Ironi Pasukan Pbb: Lupakan Kejayaan Kontingen Garuda. 1999. SiaR News Service. Diakses tanggal 26 Juli 2017.
  2. Asian-African Conference Timeline. The Jakarta Post. 23 April 2015. Diakses tanggal 26 Juli 2017.
  3. The Non-Aligned Movement: Background Information”. Government of Zaire. 21 September 2001. Diakses tanggal 26 Juli 2017.
  4. Peran Indonesia dalam Penyelesaian Sengketa Laut Cina Selatan. 1 June 2016. UNAIR News. Diakses tanggal 26 Juli 2017.
  5. Isu Palestina. 20 Januari 2016. KEMENLU Indonesia. Diakses tanggal 26 Juli 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *