Perlawanan Rakyat Maluku

Maluku merupakan salah satu wilayah di Indonesia timur yang memiliki sejarah panjang sebelum merdeka.

Kawasan itu sudah didatangi dan diduduki berbagai bangsa asing mulai Arab, Portugal, Spanyol, Inggris, Belanda dan Jepang selama lebih dari 2000 tahun.

Bangsa-bangsa tersebut umumnya memiliki motif awal perdagangan dalam lawatannya kesana.

Selain itu, kayanya rempah-rempah di Maluku juga menarik minat bangsa asing. Niat mereka untuk memonopoli dan mendominasi inilah yang memicu perlawanan rakyat.

Perlawanan rakyat Maluku terjadi pada masa pendudukan kerajaan Portugal dan Belanda pada abad ke 14, 15 dan 18.

Kedua bangsa tersebut memiliki misi yang sama, menguasai dan memonopoli perdagangan hasil alam kepulauan Maluku.

Berikut rincian perlawanan terhadap dua bangsa asing yang paling lama menduduki kepulauan tersebut.

Perang melawan Portugal

Perlawanan terhadap Portugal sebenarnya baru terjadi pada tahun 1550, atau sekitar 35 tahun setelah kedatangan mereka.

Pada awalnya mereka tiba di Ternate dan hanya melakukan kerjasama dagang dengan kerajaan setempat.

Berikut sebab-sebab munculnya perang melawan bangsa Eropa selatan tersebut:

  • Portugal mulai mencampuri urusan domestik kerajaan Ternate yang beragama Islam.
  • Portugal bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat, terutama setelah berhasil mengusir Spanyol dari Tidore.
  • Portugal mulai memonopoli perdagangan rempah-rempah yang sebelumnya bebas tanpa ikatan.
  • Portugal menangkap dan membunuh Sultan Hairun dari Ternate, pemimpin pemberontakan.

Tak pelak, perang pun pecah di tahun 1571, tak lama setelah terbunuhnya Sultan Hairun. Kali ini perlawanan dipimpin oleh Sultan Baabullah, putra Sultan Hairun.

Sultan asal Ternate ini berhasil mempersatukan suku-suku di Maluku untuk melawan Portugal. Di samping itu, ia juga sukses bersatu dengan Tidore, usai menikahi adik Sultan Tidore.

Kerajaan tersebut adalah pesaing terbesar Ternate yang berlatar belakang Kristen.

Pertermpuran berlangsung di berbagai wilayah Maluku mulai di Ambon hingga pulau Buru.

Benteng-benteng lawan pun berhasil ditaklukkan, kecuali benteng Sao Paulo yang ditempati gubernur Lopez de Mesquita.

Akhirnya pada tanggal 15 Juli 1575, Portugal  menyerah setelah hampir lima tahun diisolasi di benteng tersebut dan meninggalkan Ternate.

Namun, sejumlah warga negara Portugal yang menikah dengan penduduk setempat masih diperbolehkan tinggal.

Perang melawan Belanda

Pada awalnya, Belanda merupakan sekutu di Maluku saat Portugal berusaha menguasai kepulauan itu kembali di akhir abad 16.

Setelah sempat membantu rakyat Maluku mengusir Portugal, Belanda akhirnya sukses menguasai wilayah tersebut selama 300 tahun.

Berikut sebab-sebab perang melawan bangsa di Eropa barat tersebut:

  • Belanda memberlakukan sistem monopoli perdagangan rempah-rempah
  • Belanda memerintahkan pelayaran Hongi untuk mengontrol ketat kegiatan dagang diseluruh area.
  • Belanda memerintahkan pemusnahan hasil rempah-rempah bila harga turun dan penanaman masal jika harga naik.
  • Belanda mengurangi jumlah sekolah, guru dan pendeta.
  • Residen Van Den Bergh menolak membayar perahu rakyat dengan harga yang layak.

Tak lama setelah VOC menancapkan kekuasaannya di tanah Maluku, rakyat mulai melakukan pemberontakan-pemberontakan.

Tetapi sayangnya berhasil ditumpas. Berikut beberapa diantaranya:

  • Di tahun 1635, dipimpin oleh kapten Hitu, Kakiali. Pemberontakan gagal karena ia dibunuh oleh seorang pengkhianat setempat.
  • Telukabesi dari Hitu sempat melanjutkan perjuangan Kakiali. Tetapi berhasil digagalkan VOC di tahun 1646.
  • Di tahun 1650, dipimpin Saidi. Perlawanan kembali gagal di tahun 1655 setelah sempat meluas ke Saparua dan pulau Seram.
  • Di akhir abad 18, dipimpin Sultan Jamalluddin. Perjuangannya gagal setelah ia ditangkap dan diasingkan di Sri Lanka.
  • Di tahun 1797, dipimpin Sultan Nuku dari Tidore. Perlawanan gagal di tahun 1805 saat sultan meninggal. Sebelumnya ia sempat merebut kembali Tidore dari penjajah.
  • Di tahun 1817, dipimpin oleh Thomas Matulessy atau kapten Pattimura, bersama Paulus Tiahahu, Said Parintah dan Kristina Martha Tiahahu. Pemberontakan kembali gagal setelah sejumlah tokoh berhasil ditangkap dan dihukum gantung di Ambon. Sedangkan Kristina Martha meninggal saat perjalanan ke pengasingan. Sebelumnya mereka sempat sukses merebut benteng Duurstede di Saparua.

Sejumlah perlawanan diatas menunjukkan bahwa perang yang tidak didukung persatuan nasional mudah untuk digagalkan. Maka dari itulah, persatuan bangsa perlu dijaga.

Referensi

  1. Aziz, Maliha dan Asril. Sejarah Indonesia III. Pekanbaru: Cendikia Insani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *